
Klaten (humas) – Seminar Nasional bertajuk Great How To Be Teacher diselenggarakan pada Rabu, 14 Januari 2026, bertempat di Gedung Pandanaran Klaten. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan dan pembelajaran bagi para pendidik untuk meningkatkan kapasitas diri di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, khususnya dalam menghadapi karakter peserta didik generasi Z.
Seminar nasional tersebut diselenggarakan oleh Teacher Preneur Nusantara dan dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kankemenag Kabupaten Klaten, Agus Susanto, yang hadir mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Klaten. Dalam sambutan dan arahannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini yang dinilai relevan dan strategis bagi penguatan kompetensi guru.
Mewakili Kepala Kantor Kemenag Klaten, Kasi Penmad mengajak seluruh peserta seminar untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat bermanfaat dalam membentuk guru yang hebat, adaptif, dan inspiratif, terutama dalam meningkatkan kemampuan public speaking serta strategi mendidik peserta didik generasi Z secara efektif dan humanis.
Pada kesempatan tersebut, Agus Susanto juga menyampaikan kebijakan terbaru Kementerian Agama terkait KMA Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). KMA ini mengukuhkan KBC sebagai filosofi baru pendidikan madrasah yang menekankan pengembangan karakter, spiritualitas, empati, dan pemahaman mendalam melalui pendekatan kasih sayang yang dirumuskan dalam Panca Cinta, yakni cinta kepada Tuhan, sesama, ilmu, lingkungan, dan bangsa. Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari KMA Nomor 450 Tahun 2024, dengan tujuan melahirkan generasi yang humanis, nasionalis, dan toleran.
Seminar Nasional Great How To Be Teacher ini diikuti oleh sekitar 1.200 guru dari jenjang RA/BA, MI, dan MTs se-Kabupaten Klaten. Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru semakin termotivasi untuk terus belajar, memperbaiki kualitas diri, serta mampu menerapkan strategi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman, sehingga mampu menciptakan proses pendidikan yang bermakna dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
























